WAHYU FIGHTER

FIGHT n FIGHT

ULUL ALBAB

by. Wahyudi_UlulAlbab

ulul-albabMaha Suci dan Maha Bijak Allah yang telah memeberikan manusia berbagai macam potensi yang yang menjadi furqon atau pembeda dari mahluk-mahluk yang lainya. Allah memberikan potensi ruhiyah yang dimanfestasikan dengan dzikrullah, fikriyah dengan manifestasi fikiran serta jasadiyah yang hendaknya dimanifestasikan dengan amal sholeh.

Apalah jadinya manusia dikala tidak ada tawazun atau keseimbanagan antara potensi-potensi yang sangat luar biasa ini. Dikala aspek materi manusia yang lebih ditonjolkan maka manusia tiada bedanya dengan hewan dan berlakulah hukum rimba, dikala aspek materi dan akalpun terpenuhi namun aspek fitroh diabaikan maka dunia ini tiada bedanya sebagai neraka karena amanah-amanah manusia yang diberikan Allah SWT, tidak terlaksana diantaranya adalah beribadah, sebagai kholifah atau penanggung jawab kehidupan di dunia, dan sebagai da’i yang beramarma’ruf nahi munkar.

Oleh karena itu Allah dengan wahyu-Nya yang suci nan mulia mempresentasikan model manusia yang dapat menjalani hal itu sebagaimana yang dijalankan oleh qudwah kita Muhammad Rasulullah saw. Model itu adalah model sebagai rausyan fikr yaitu Ulul Albab, model yang seringkali muncul di ayat-ayat al qur’an, model yang digambarkan sebagai insan yang tidak hanya bergelut pada satu dimensi saja. Namun sebuah model manusia yang syumul paradigmanya akan dirinya dan tuhanya, dirinya dan rasulnya, dirinya dan agamanya, dirinya dan umat, dirinya dan masyarakat, dirinya dan keluarga, dan dirinya dengan dirinya.

CIRI-CIRI ULUL ALBAB

Orang yang mengambil pelajaran dari hukum Allah/Qishas (Al Baqarah: 179).

Orang-orang yang diberi hikmah dan sanggup mengambil pelajaran dari Allah SWT (Al Baqarah: 269).

Bersungguh-sungguh mencari ilmu (Ali ‘Imran: 7).

Merenungi ciptaan Allah, baik yang berada di langit maupun di bumi (Ali ‘Imran: 190, Az Zumar:: 21).

Banyak Berdzkir,Dzikir lisan, hati dan pikiran serta perbuatan (Ali ‘Imran 190).

Kritis mendengarkan pembicaraan, ungkapa atau pikiran orang lain (Az Zumar: 18).

Mengambil pelajaran dari kitab-kitab yang diwahyukan Allah (Ali ‘Imran: 7, Al Mukmin: 54).

Sanggup mempertahankan keyakinan (Al Maidah: 100).

Berusaha menyampaikna peringatan Allah kepada masyarakat tentang tauhid (Ibrahim: 52).

Memenuhi janji Allah (Ar Rad: 19-20).

Bangun di tengah malam (Az Zumar: 9).

from : http://wahyu-ululalbab.blogspot.com/2009/01/makalah-ulul-albab.html

Februari 9, 2009 Posted by | ULUL ALBAB | 4 Komentar

Ternyata Hanya Karena Uang Itu Indah

Ibnu Syamsi Belajar Nulis, 5 Januari 2011 – ISBN 05.01.11

Dunia terus berputar dengan segala dinamika didalamnya. Dunia dengan segala kombinasi dan pasangan-pasangan yang ada di dalamnya terus  bergejolak. Sebagaimana kebahagiaan dan kesedihan silih berganti seiring pergantian siang dan malam yang terus berulang. Begitu juga dengan manusia yang terus aktif dalam menjalani kehidupanya dengan segala harapan dan mimpi. Dengan satu tujuan pasti yang tiada satupun yang luput dari tujuan tersebut yaitu kebahagiaan.

Jika kita renungkan, sesungguhnya apa hakikat kebahagiaan itu? Apa karena istri-istri atau suami kita, anak-anak yang lucu menggemaskan hati, uang, harta serta kekayaan, atau investasi-investasi hidup lainya? Jika kita selami hati nurani terdalam diiringi rasa kehambaan yang menyeluruh dan penuh pada Allah SWT, maka kita sadari kebahagiaan bukan sebagaimana yang kita sebutkan tadi.

Kebanyakan dari kita memang menjadikan hal-hal yang kita sebutkan tadi sebagai standar kebahagiaan dalam hidup. Namun tidak sedikit pula yang kecewa dan tidak mendapatkan kebahagiaan yang diharap walau memiliki istri yang cantik, anak yang lucu, harta yang banyak dan lain sebagainya. Ada apakah? Kembali kita renungkan, ternyata kebahagiaan itu bukan dari apa-apa diluar diri kita dengan segala kelimpahanya. Namun kebahagiaan adalah manajemen syukur dan sabar dalam diri kita untuk menyikapi apa yang dikaruniakan oleh Allah SWT baik dalam kelimpahan maupun keterbatasan.

Jika kita tadaburi sebuah ayat yang artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”(QS. Ali Imran 14). Sehingga tidak ada satupun manusia yang tidak indah melihat apa-apa yang Allah jadikan karunia di dunia ini sebagaimana yang disebutkan pada ayat ini. Dan tentunya tidak ada satupun yang tidak menginginkan hal-hal yang indah tersebut untuk mendapatkan kebahagiaan.

Dunia dengan segala aktifitasnya yang dilakukan oleh seorang, bahkan sekelompok manusia. Ada yang berbisnis, menjadi pegawai, dan apapun itu aktifitasnya dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah sama-sama mengejar nikmat keindahan yang Allah karuniakan. Mereka saling berinteraksi, bertransaksi dan pundi-pundi barang tukarpun dalam hal ini adalah uang mengalir kesana kemari. Uang untuk membeli keindahan dan mendapatkan kemanfaatan.

Tentunya kita tahu, bahwasanya uang hanyalah pengganti emas sebagai alat jual beli sesunggunhnya di dunia ini. Kenapa emas? Apakah karena emas dapat di makan seperti beras, emas dapat menjadi bahan bakar seperti minyak bumi, atau emas bisa dijadikan anak istri. Tentu saja tidak, tapi karena emas memiliki nilai keindahan buktinya tidak sedikit yang menjadikanya perhiasan untuk di pamerkan kesana-kemari karena keindahanya. Indah karena kadar kemurnianya sebagai salah satu logam mulia di jagat raya ini. Tapi tetap saja uang tidak dapat dimakan dan dijadikan bahan bakar.

Jadi bila kita sadari, ternyata dinamika hidup kita dalam mencapai kebahagiaan dunia dengan apa-apa yang Allah tetapkan indah dalam pandangan kita. Ternyata kembali pada keindahan tersebut. Sadarkah kita bahwa transaksi hidup, jual beli kita selama ini nilai utamanya sejatinya bukan pada warna, jenis kertas atau jumlah uang. Tapi nilai utama transaksional dalam kehidupan kita antar sesama dalam berinteraksi adalah karena keindahan.

Sehingga dengan siklus pengejaran nilai keindahan tersebut, banyak kebutuhan lain yang terpenuhi. Terpenuhi ketika nilai keindahan tersebut ditukar dengan hal yang end use seperti bahan makanan ataupun bahan bakar dan lain sebagainya. Subhanallah, ternyata hanya karena uang itu indah, hanya karena emas itu indah, keindahan yang ditetapkan Allah pada pandangan sehingga interaksi pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan terus berputar. (ada gak yang berpikir kenapa gak pasir aja ya yang indah? mudah didapat)

 

Januari 5, 2011 Posted by | Filsafat Zone, Iqtishodi, tarbiyah, Tsaqofah, ULUL ALBAB | 1 Komentar

  • Deadline Your Life

    Januari 2012
    S S R K J S M
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • ngarsip

  • paling diminati

    Enterpreneurship Filsafat Zone Ikhwanul Muslimin Iqtishodi iseng Isti'lamat makalah my video tarbiyah teknologi Tsaqofah ULUL ALBAB
  • Visitor-Today

    • 8,109 visitors
  • Blogroll

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.