WAHYU FIGHTER

FIGHT n FIGHT

NILAI, ETIKA, IDEALISME DALAM FILSAFAT

by. wahyu_ululalbab_fighter

yang baik belum tentu benar dan yang benar belum tentu baik maka jauhilah yang salah lagi tidak baik dan pillihlah yang baik lagipula benar”

Dalam menjalani hidupnya, seorang manusia tidak akan terlepas dari keterkaitan hubungan dengan manusia yang lainyan dalam artian manusia sebagai mahluk sosial. Aktifitas yang dilakuakn manusia dalam interaksi sosial selalu bersinggungan dengan nilai-nilai, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Sehingga secara sadar maupun tidak manusia menjalani hidupnya dalam segala aktifitasnya berlandaskan pada nilai-nilai dalm lingkup dirinya, orang lain dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pembahasan yang berkaitan dengan konsep nilai (value), sebenarnya merupakan kajian yang sangat erat secara substansial dengan persoalan etika. Oleh karena itu, kajian dalam persoalan nilai ini biasanya mempertanyakan apakah yang ”baik” dan “tidak baik”, atau bagaimana “mesti” berbuat “baik” serta tujuanya bernilai. Hal ini menyentuh pertanyaan apa dasar yang menjadi pembenaran suatu keputusan moral ketika disebut “baik” atau “tidak baik”.

Adapun hubunganya dengan filsafat ialah, filsafat merupakan seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi dan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma, aturan-aturan dan prinsip etis. Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, suatu persoalan nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan nilai untuk melaksanakan hubunganhubungan kemanusiaan secara benar dan juga berbagai pengetahuan tentang apa yang buruk atau baik untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya.

Membahas masalah nilai atau teori tentang nilai berarti kita membahas tantang aksiologi karena aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios(nilai) dan logos(teori) jadi aksiologi adalah teori tentang nilai.1 Dalam Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa aksiologi (teori tentang nilai) ada tiga bentuk :

a. Nilai, yang digunakan sebagai kata abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik, dan bagus. Dan dalm pengertian yang lebih luas mencakupi sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, dan kesucian.

b. Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia seringkali diapakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya, nilai dia, dan sistem nilai dia. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang memiliki nilai atau bernilai sebagaimana berlawanan dengan apa-apa yang tidak dianggap baik atau bernilai.

c. Nilai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan dinilai.2

Setidaknya ada dua aliran dalam kaian nilai yaitu aliran naturalisme dan nonnaturalisme, adapun penjelsasanya adalah sebagai berikut :

a. Aliran naturalisme

Aliran ini menganggap bahwa nilai adalah sejumlah fakta, oleh karena itu setiap keputusan nilai dapay diuji secara empirik. maka sifat perilaku seperti jujur, adil, dermawan dan lainya atau kebalikanya merupakan indikator seseorang itu berpeilaku baik atau tidak baik. Selain bentuk pengujian seperti ini, konsekuensi dari setiap perbuatan adalah juga merupakan indikator seseorang itu baik atau tidak baik. Maka dapat kita lihat bahwa keputusan nilai pada naturalisme bersifat ungkapan faktual, sehingga dapat diuji secara empirik.

b. Aliran nonnaturalisme

Aliran ini menganggap bahwa nilai tidak sama dengan fakta, artinya fakta terpisah dengan nilaidan secara absolut (mutlak) tidak terdeteksi satu sama lainya. Berbeda dengan naturalisme, mengingat bagi nonnaturalistik nilai itu bukan fakta, tetapi bersifat normatif dalam memberitahukan sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, maka keputusan nilai pada kelompok ini tidak dapat diketahui melalui uji empirik, akan tetapi hanya dapat diketahui melalui apa yang disebutnya dengan intuisi moral yang telah dimiliki manusia, yaitu kesadaran langsung adanya nilai murni seperti benar dan salah dalm perilaku, objek seseorang.3

Untuk lebih dapat memahami kajian tentang nilai ini. kami kutip pandangan Raghib Al-Ishafani, dia mengakui adanya tiga bentuk kebaikan. Yaitu baik karena zatnya, baik karena yang lainya, dan baik karena zatnya dan yang lainya. Namun ia kemudian mempertegas bahwa hanya ada dua bentuk nilai kebaikan. Yaitu kebaikan mutlak (khoir mutlaq) dan kebaikan kondisional (khoir muqoyyad). Khair mutlaq adalah perbuatan baik yang dipilih karena perbuatan itu sendiri dan setiap orang yang berakal sangat menginginkanya. Hal itu karena khair mutlaq memiliki sifat manfaat, indah dan lezat.4 Dengan konsep seperti ini, ia menyimpulkan bahwa apa saja yang berada pada posisi manfaat dan pendorong untuk meraih khair ukhrawi dan kebahagiaan hakiki maka itu disebut sebagai kebaikan dan kebahagiaan. Adapun kebaliknanya adalah sifaf sharr (jelek) yang memiliki sifat-sifat seperti aniaya, tercela dan merugikan diri. Sifat tersebut disebut sharr atau jelek itu sendiri. Pada hal ini dapat kita ambil contoh pernikahan anatara dua insan yang berbeda jenis yang salaing mencintai. Kebahagiaan akan memenuhi jiwa dan raga mereka karena untuk menunaikan fitrah dari Allah SWT mereka memilih jalan syariat yaitu menikah. .

Sebaliknya khair muqoyyad (kebaikan kondisional) adalah, selain memiliki sifat-sifat khair mutlak juga terdapat didalamnya sifat-sifat sharr (jelek). Untuk menentukan sesuatu itu “baik” ditentukan sejauh mana “sifat-sifat baik” yang ada dalm sesuatu itu memeberikan lebih dibanding “sifat-sifat tidak baik”. Dapat dipahami bahwa dalam khiar ini sesuatu itu memiliki nilai baik bukan disebabkan perbuatan itu sendiri, atau dipilih bukan karena perbuatan itu sendiri tetapi karena sesuatu diluar perbuatan itu. Pada hal ini dapt kita ambil contoh pada perperangan dimana didalamnya terdapat pembunuhn-pembunuhan hal ini jelas dipilih bukan karena perbuatan pembunuhan itu sendiri namun karena sesuatu diluar itu. Sebagaimana rakyat palestina yang melakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan dan untuk mendapatkan keadilan bagi diri mereka. Sehingga saat ini kita mengenal ada yang dinamakan bom bunuh diri atau dalam pendapat lain adalah bom syahid.

Bertolak pada kajian mengenai etika maka kita pahami dulu arti dari etika itu sendiri. Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang memiliki pengertian adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin serta kecenderungan batin untuk melakukan sesuatu. Adapun moral (mores) juga berarti adat atau kebiasaan. Di dalam Kamus Istilah Pendidikan dan Umum dinyatakan bahwa etika adalah bagian dari filsafat yang mengajarkan tentang keluhuran budi (baik/buruk).5

Sebenarnya terdapat kesamaan antara etika dan moral, namun menurut para ahli filsafat bahwa perbedaan antara etika dan filsafat adalah etika memandang perilaku dan perbuatan manusia secara umum sedangkan moral melihatnya secara lokal. Namun dalam makalah ini, hanya fokus dengan kajian masalah etika dikhawatirkan makalah ini akan terlalu panjang dan kompleks sehingga susah untuk dikaji bersama dalam forum diskusi kelas walaupun disadari kajian tentang moral sangat erat dan tak terlepas dari kajian nilai dan etika.

Etika pada dasarnya merupakan penerapan dari nilai tentang baik buruk yang berfungsi sebagai norma atau kaedah tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain, sebagai espektasi atau apa yang diharapkan oleh masyarakat terhadap seseorang sesuai dengan status dan peranannya, dan etika dapat berfungsi sebagai penuntun pada setiap orang dalam mengadakan kontrol sosial.

Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalu dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat diakatakn pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik dalam suatu kondisi yang normatif (pelibatan norma).

Maka dari pemahaman seperti diatas yaitu etika ketika bersinggungan dengan norma. Maka munculah pemikiran-pemikiran mengenai etika itu sendiri. Sebagaiman dikatakan oleh Dr. Frans Magnis Suseno “etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi dilain pihak etika juga tidak bertentangan denagn agama”. Hal ini sejalan dengan perkataan-perkataan yang sering kami dengar dalam ceramah-ceramah yaitu manusia akan menjadi baik sekalipun ia tidak mempunyai tuntunan sebagaiman Al Quran dengan mengandalkan akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah atau bisa kita gunakan kata lain yaitu kebijaksanaan.

Teringat perkataan Socrates, ia mengatakan “aku bukanlah tuhan tapi aku senang dengan kebijaksanaan”. Dari hal ini dapat dianilisis bahwa etika merupakan ilmu kebijaksanaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia, sehingga denganya kita dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita. Namun perlu ditegaskan dalm diri kita bahwa yang maha bijaksana hanyalah Allah SWT sehingga kebijaksanaan Allah dalam mengatur dan menentukan sesuatu hal diatas kebijaksanaan kita dalam mengatur dan menentukan sesuatu.

Etika menurut H. Devos merupakan ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan, ini berarti bahwa etika membicarakan kesusilaan secara ilmiah6 Dan kesusilaan merupakan keseluruhan aturan, kaidah atau hukum yang mengambil bentuk perintah dan larangan.

Berikutnya terdapat tanda tanya pada diri kita mengenai etika dan ahlak. Dalam berbagai bentuk bahasan dan tulisan para pakar, mempersamakan secara etimologi tentang pengertian ahlak dan etika. Namun didalm buku Pengantar Studi Akhlak yang juga menjadi referensi kami dalam penulisan makalah ini menegaskan bahwa ahlak berbeda dengan etika ditinjau dari norma yang mendasarinya. Dan menurut pemahaman kami, ahlak dan etika itu sejalan sebagaimana disampaikan para pakar. Yang menjadi permasalahan hanya pada penggunaan kata yaitu etika dan ahlak itu sendiri. Ahlak berasal dari bahasa Arab dan etika dari bahasa Yunani. Padahal sumber etika yang utama adalah Alquran dan Al- hadist juga sebagaimana dipahami sebagai dasar ahlak.

Filsafat ialah seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi dan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma, aturan-aturan dan prinsip etis. Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, suatu persoalan nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan nilai untuk melaksanakan hubungan-hubungan kemanusiaan secara benar dan juga berbagai pengetahuan tentang apa yang buruk atau baik untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya.

Telah dijelaskan pula dalam bab pendahuluan bahwa filsafat merupakan seperangkat keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap, cita-cita, aspirasi-aspirasi dan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma, aturan-aturan dan prinsip etis. Menurut Sidney Hook, filsafat juga pencari kebenaran, suatu persoalan nilai-nilai dan pertimbangan-pertimbangan nilai untuk melaksanakan hubunganhubungan kemanusiaan secara benar dan juga berbagai pengetahuan tentang apa yang buruk atau baik untuk memutuskan bagaimana seseorang harus memilih atau bertindak dalam kehidupannya.

Nilai-nilai menolong kita membentuk pola-pola suatu fakta dan mengidentifikasikan keberartian (makna) fakta-fakta tersebut. Gordon menyatakan pentingnya untuk mengakui hak tersebut, bila mana kita mengetahui keberadaan dan perbedaan fakta-fakta yang kita nilai. Praktek kehidupan yang efektif, diperoleh melalui penggunaan keinginan keinginan yang berbeda dan tepat,atau melalui tinjauan situasi yang empirik dan objectif dan melalui penggunaan nilai-nilai atau prinsip-prinsip faktual. Gordon mempercayai bahwa dari perbedaan-perbedaan yang penuh kehati-hatian, pengetahuan faktual akan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan pekerjaan sosial.

Florence kluckholn mengindentifikasikan sejumlah orientasi nilai yang nampaknya berkaitan dengan masalah kehidupan dasar atau dalam artian dalam kehidupan sosial :

1. Manusia berhubungan dengan alam atau lingkungan fisik, dalam arti mendominasi, hidup dengan atau ditaklukan alam.

2. Manusia meniali sifat/hakikat manusia sabagai baik, atau campuran antara baik dan buruk.

3. Manusia hendaknya bercermin pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

4. Manusia lebih menyukai aktifitas yang seang dilakukan, akan dilakukan, atau telah dilakukan.

5. Manusia menilai hubungan dengan orang lain, dalam kedudukan yang langsung, individualistik, atau posisi yang sejajar.

Adapun etika, pada dasarnya merupakan penerapan dari nilai tentang baik buruk yang berfungsi sebagai norma atau kaedah tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain, sebagai espektasi atau apa yang diharapkan oleh masyarakat terhadap seseorang sesuai dengan status dan peranannya, dan etika dapat berfungsi sebagai penuntun pada setiap orang dalam mengadakan kontrol sosial.

Menurut pandangan Al-Mawardi proses pembentukan idealisme karakter muslim lebih didasari suatu pandangan, bahwa manusia tidak dapat berkembang tanpa pendidikan (ta’tib, tahzib). Al-mawardi mendasarkan pandangan itu, karena jiwa itu mempunyai kecenderungan alami utuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Menyadari adanya unsur negatif pada jiwa yang berupa nafsu (al-hawa, al-shahwah), maka jalan terbaik untuk melawan nafsu tersebut adalah pelatihan diri. Proses pelatihan tersebut menjadi efektif, jika ada pembimbing yang dapat mengarahkan dan mengoreksi berbagai kekekiruan yang dilakukan seorang anak. Orang tua dan para guru mengemban misi untuk mengarahka karakter anak melalui proses pendidikan dan pengajaran. Melalui proses pendidikan itu, seorang guru akan menanamkan rasa cinta dan ketertarikan seorang anak pada ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan pada hakikatnya merupakan simbol kemulyaan tertinggi bagi orang. Oleh karena itu, eksistensi seorang pendidik menjadi semakin vital, karena ilmu pengetahuan ternyata menjadi penggerak tercapainya karakter yang bermutu tinggi.7

Hasil dari proses pendidikan yan baik adalah terbentuknya perkembagan yang kognitif seorang, yang pada giliranya berperan mengarahkan perilaku moralnya. Melalui kekuatan akalnya, seorang akan mampu menghargai hal yang paling baik dan apa yang berguna. Pada saat yang sama seorang akan mampu mengendalikan nafsu dan keinginan yang besar. Al-mawardi memisahkan antara “aturan-aturan disiplin dan perubahan karakter” dan ”aturab bertingkah laku baik”.

Hal tersebut diatas membuktikan konsistensinya terhadap pentingnya perilaku individual dan perilaku masyarakat. Kedunya harus dipadukan manjadi satu untuk membentuk karakter yang ideal, karena semua kebajikan selalu mempunyai tujuan yang ganda, individu dam kolektif. Oleh karena itu Mohammed arkoun menila, bahwa tidak ada tingkah laku yang baik, jika tidak ada tindakan yang sama dalam kelompok.

Al-Mawardi berusaha merangkai antara sikap hati-hati terhadap langkah yang hendak diambil yang diistilahkan sebagai termal haya dengan penguasaan diri dalam keadaan marah. Kebenaran dan kejujuran, penerimaan takdir dengan ikhlas. Hal itu dilakukan dalam usaha untuk mewujudkan karakter ideal yang dimaksud. Akumulasi empat sikap pada diri seseorang untuk mencapai karakter ideal tersebut tentunya memerlukan kesungguhan, kesabaran dan waktu yang lama. Oleh karena itu proses pembentukan karakter seorang perlu dilakukan secara berkesinambungan.

Kesimpulan dari berbagai keterangan tersebut, kiranya tidak terlalu salah jika dikatakan, bahwa karakter ideal melalui berbagai proses dapat membentuk seseorang mampu merealisasikan suasana hati yang jernih dalam tingkah laku dan beribadah. Kejernihan hati akan mendorong seseorang mampu melaksanakan setiap perbuatan dalam kondisi dan batas normal yang sudah ditentukan. Dan demikian akhirnya, seseorang mampu memberikan kontribusinya dalam pencegahan dekadensi moral secara umum. Tepat kiranya pepatah menyebutkan: aslih nafsaka yasluh laka al-nas.

Maka dalam hal ini kita munculkan pula sebuah konsep diri, yaitu insan kamil. Insan kamil berasal dari bahasa arab, yang berarti manusia yang sempurna. Konsep insan kamil diperkenalkan oleh ibnu arabi, menurut ibnu arabi hanya insan kamil yang memilikin kemungkinan mengenal secara pasti dan benar, dan melalui insan kamil, tuhan mengetahui dirinya sendiri, karena insan kamil adalah irodah dan ilmu tuhan yang dimanifestasikan.8

Seorang akan makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Maha Mutlak, maka makin sempurnalah dirinya. Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan nama serta sifat-sifat Tuhan kedalam hakikat atau esensi dirinya.dalam pengertian inilah esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut juga pada dasarnya menjadi milik manusia sempurna.

Menurut Muhammad Iqbal, proses lahirinya insan kamil melalui tiga tahap,yaitu :

1.ketaatan pada hukum

2.penguasan diri sebagai bentuk tertinggi kesadaran tentang pribadi

3. kekhalifahan Ilahi.

Sosok insan kamil dapat dilihat dari para nabi, seperti Nabi Ibrihim yang bergelar khalilullah(sahabat Allah), nabi muhammad dijuluki habibulloh(kekasih Allah, nabi Musa disebut kalamullah(pembicara Allah), nabi Isa ruhullah(ruh Allah) dan nabi-nabi dan rosulnya. Namun, julukan insan kamil bukan milik mutlak para nabi, melainkan ditijukan pula kepada sebagian manusia, yaitu bagi mereka yang beriman, bertaqwa, daberamal sholeh.

About these ads

Februari 9, 2009 - Posted by | Filsafat Zone

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Deadline Your Life

    Februari 2009
    S S R K J S M
        Mar »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  
  • ngarsip

  • paling diminati

    Enterpreneurship Filsafat Zone Ikhwanul Muslimin Iqtishodi iseng Isti'lamat makalah my video tarbiyah teknologi Tsaqofah ULUL ALBAB
  • Visitor-Today

    • 10,732 visitors
  • Blogroll

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: