Dor Dor Dor Suara Kembang Api (?)
Ibnu Syamsi Belajar Nulis, 1 Januari 2011 – ISBN 1.1.11
Sorak sorai gegap gempita senantiasa mewarnai malam 31 Desember dari tahun ke tahun tidak terkecuali pergantian tahun 2010 ke tahun 2011 ini. Mulai dari jalan utama perkotaan sampai dengan pelosok-pelosok gang kampong ke kampung banyak orang berjaga malam untuk merasakan pergantian menit 23.59 ke 00.00 yang artinya berakhirlah sudah tanggal 31 Desember ke tahun 1 Januari pada perhitungan masehi. Secara umum ada yang masak-masak satu kampong atau satu keluarga, memutar musik ataupun konser, jalan-jalan keliling kota, menyalakan petasan dan hal umum lainya. Adapula yang menyikapi bijak untuk tetap berdzikir pada Allah SWT dengan mengadakan zikir bersama, istighosah, ceramah keagamaan, dan hal yang positif dan berbau religius lainya. Sesalnya, melihat fakta dari tahun ke tahun tidak dipungkiri bahwa aktifitas kejahatan dan kemaksiatanpun meningkat pada saat itu, mulai dari pesta narkoba begtu juga minuman keras, pesta sex bebas yang diberitakan ribuan keperawanan hilang pada malam itu, dan aktifitas foya-foya serta hura-hura lainya.
Pertanyaan yang sering muncul bagi kita umat islam adalah apakah kita boleh turut memperigati atau bahkan sampai merayakan pergantian tahun masehi ini?sedangkan masih banyak diantara kita yang lalai dalam momentum tahun baru hijriah yang lebih sarat akan makna yang patut selalu diingat agar menjadi momentum muhasabah perbaiakn diri dari tahun ke tahun. Pernahkah kita mendengar akan sebuah pesan dari Rasulullah yang mafhumnya adalah barangsiapa mengikut-ikut, meniru-niru atau mencontoh-contoh suatu kaum maka kelak dia akan dibangkitkan bersama kaum tersebut. Sedangkan tahun baru masehi berasal usul dari kelahiran nabi Isa As bahkan ada yang menyebutkan hari khitanya nabi Isa As, terlepas dari benar atau salah informasi tersebut ini merupakan hari yang diagung-agungkan oleh umat nashrani terutama kalangan kristen protestan yang tidak mengakui tanggal 25 Desember (Natal) adalah hari kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa As). Maka ketika ketika kita turut memperingati bahkan sampai merayakanya apakah sama kita dengan mereka?, bukankah standar waktu ini merupakan standar internasional yang telah ditetapkan dan dipakai seluruh dunia dimana seluruh aktifitas kita berpatokan dengannya?.
Dalam hal memperingati, maka mari kita menyikapi peringatan dan perayaan hari yang identik dengan umat nashrani dan standar waktu internasional ini dengan memperhatikan aspek yang pertama dan utama yaitu aspek akidah. Ketika tidak ada sesuatu yang berpengaruh terkait akidah kita maka tidak ada salahnya kita memperingati pergantian tahun masehi ini sebagai sebuah momentum peringatan akan waktu yang terus berputar dan berkurang menjemput kiamat kecik diri kita dan kiamat besar jagat raya ini. Dalam hal merayakan untuk menyambut tahun berikut dan melepas tahun sebelum, dam tidak ada masalah apakah harus diperingati atau tidak, maka mari bertanya apa yang dirayakan?apakah karena sadar akan waktu dan semakin berkurangnya jatah waktu kita?, karena kesuksesan yang diraih pada tahun 2010?, atau mungkin untuk menjemput harapan di tahun 2011 nanti? ketika kita dapat menjawab ‘ya’ dari satu atau beberapa pertanyaan tadi besar kemungkinan hal yang dilakukan adalah yang bersifat positif dan bermakna baik itu zikir dan doa bersama, ceramah, training-training motivasi, serta hal mubah lainya. Dan kemungkinan terbesar ketika tidak ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bentuk perayaan menyambut tahun barupun tidak jelas dan sia-sia bahkan ke arah kemaksiatan. Namun disamping itu semua ada juga yang tidak memperingati samasekali (lupa atau dihutan kali ya….?), ataupun memperingati (ingat karena beritanya disana-sini di tv, koran dan lain-lain terutama kalender ^_^) namun tidak merayakan alias tidak ada acara pada malam pergantian tahun tersebut (ini saya loh.).
Terlepas dari polemik diatas, mari peringati tahun baru ini dengan menarik benang merah dalam rangka memaknai perputaran waktu yang semakin berkurang ini dengan momentum tahun baru miladiyah/masehi. Muslim yang baik adalah muslim yang senantiasa memanfaatkan momentum dalam dirinya, bahkan lebih baik lagi ketika mampu mempersiapkan momentum bagi dirinya untuk berpijak naik dari anak tangga satu ke anak tangga lainya dalam mencapai tujuan hidup ini sebagai hamba Allah SWT dan khalifatul fil ardh. Jika pada tahun baru hijriah kita memperingati dan menapaki jejak akan makna hijrah yang dilakukan Rasulullah ke Yastrib (Madinah) ke dalam dimensi hidup saat ini. Maka tidak ada salahnya juga kita memperingati tahun baru miladiyah/masehi yang sangat diingat masyarakat seantaro dunia ini sebagai salah satu momentum untuk memperingati dan bersama mengingat akan waktu. Jikalau hari demi hari yang dilewati banyak diantara kita terlupa akan hakikat waktu ini, maka pada momentum ini semua ingat akan waktu maka tidak ada salahnya membuat sebuah wahana syiar baik dengan nadwah(ceramah, seminar, dll), katibah(tulisan, poster, dll) atau acara seremonial yang baik dan bermanfaat lainya untuk mengingatkan akan hal ini.
Terkait hakikat waktu yang senantiasa berkurang, Allas SWT berfirman : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(QS. As Ashr 1-3). Jika kita tadaburi ayat per ayat maka banyak yang dapat kita rincikan, mulai dari klasifikasi manusia yang diukur dengan waktu yang terdiri dari orang yang merugi dan orang yang beruntung, serta hal-hal yang membuat seseorang tidak merugi alias untung atas waktu yang dijalaninya. Kita termasuk yang mana? Merugi atau yang beruntung?jika ingin menjadi yang beruntung tiga hal yang menjadi target utama yaitu keimanan dengan manifestasi amal vertikal kepada Allah SWT, amal sholeh dengan manifestasi amal vertikal dan horisontal kepada sesama manusia dan seluruh komponen kehidupan di dunia ini, dan yang selanjutnya adalah saling nasihat menasihati sebagai perwujudan ukhuwah dan kepedulian sesama akan kehidupan dunia dan akhirat.
Selamat tahun baru, selamat mempersiapkan diri menjadi orang-orang yang beruntung, selamat mengingat akan waktu kita yang semakin berkurang baik pada dimensi diri sendiri maupun dunia ini, selamat bersyukur atas kesuksesan yang telah kita raih tahun sebelumnya, dan selamat menjemput impian dengan benih-benih harapan yang kita tanam pada momentum awal perputaran waktu standar dunia ini. Tentunya dengan DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal) karena impian itu tidak hadir dengan sendirinya. Jika kita bermimpi menaklukan daratan maka mimpikanlah! Jika kita bermimpi menaklukan lautan mimpikanlah! Jika kita bermimpi menaklukan dunia mimpikanlah! Jika kita bermimpi menaklukan angkasa mimpikanlah! Dengan memulai menaklukan diri kita sendiri untuk takluk pada Robb semesta alam atas waktu yang disediakan awalan dan akhiran olehNya yang terus berkurang.
Belum ada komentar.






