Kemarin, Hari Ini dan Esok
Ibnu Syamsi Belajar Nulis, 2 Januari 2011 – ISBN 02.01.11
Waktu sebagai salah satu nikmat Allah tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi dalam menjalani dan menikmatinya. Berbeda dengan uang ataupun materi lainya yang Allah berikan nikmat itu bertahap dan dengan interval waktu yang tak terkira, serta jumlah yang naik dan turun sehingga kita lebih sadar merasakan ada dan tiadanya, lebih dan kurangnya. Berbeda dengan waktu yang Allah berikan konsisten pada jumlah perhitunganya. Perhitungan waktu semakin berkurang antar tiap dimensi serta tidak akan pernah sama kombinasi antara dimensi detik, menit, jam, hari, bulan, tahun dan seterusnya.
Dalam menjalani amanah hidup sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia, maka waktu bagaikan lintasan sebuah kereta api yang berjalan dari satu stasiun ke stasiun lain dengan membawa muatan. Sejauh dan sepanjang perjalanan, sejauh dan sepanjang itu pula lintasan tersebut berkurang. Allah telah menentukan jauh lintasan tempuh waktu hidup kita masing-masing sampai tiba kiamat kecil, dan Allah juga telah tetapkan jau lintasan tempuh kehidupan di dunia sampai tiba kiamat besar. Namun tiada satupun dari kita mengetahui batas tersebut, dan itulah kebijakan yang amat bijak dari Allah. Tugas kita hanya melakukan yang terbaik pada tiap perubahan sekat-sekat dimensi waktu sampai Allah karuniakan husnul khotimah.
Berbicara masalah waktu, kita akan berbicara tiga dimensi utama waktu. Kita akan berbicara tentang kemarin sebagai dimensi masa lalu yang indah disebut sebagai sejarah dalam dunia akademis dan indah disebut kenangang dalam dunia nostalgia romantika. Kita akan berbicara hari ini, dimensi sekarang sebagai sebuah kenyataan yang dijalani. Kita akan berbicara hari esok, dimensi masa depan yang penuh akan harapan, impian dan cita-cita. Yang tentunya tiga dimensi tersebut tidak akan meninggalkan antara satu dengan yang lain tapi saling kait mengait. Baik itu waktu bagi diri sendiri maupun sekumpulan bangsa atau yang lainya.
Masa lalu sebagai sejarah ataupun kenangan layak disikapi sebagai sebuah referensi pelajaran hidup yang penting untuk diperhatikan. Selain itu, sejarah juga merupakan identitas baik itu bagi diri sendiri maupun sekumpulan bangsa atau umat. Kita saat ini adalah diri kita yang ditempa dengan perjalanan kemarin. Begitu juga suatu bangsa misalnya, identitasnya adalah apa yang telah terjadi di masa lalu. Semakin kaya akan sejarah masa lalu dalam artian apa yang telah kita lakukan baik ataupun buruk, sejauh itulah kekayaan identitas kita. Allah SWT berfirman : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”(QS. Al Isra’ 7).
Saat ini sebagai sebuah kenyataan layak disikapi dengan kesyukuran ataupun kesabaran. Apa-apa yang didapati saat ini terkadang sesuai keinginan dan terkadang pula bertentangan dengan yang diinginkan. Sehingga sabar dan syukur merupakan formula penting dalam menyikapi kenyataan. Dikala lapang dengan kenikmatan, posisikan syukur sebagai garda terdepan menyikapinya namun tetap diiringi sabar dibalakang agar terhindar dari berlebih-lebihan. Dikala sempit dengan kepelikan, posisikan sabar sebagai garda terdepan menyikapinya, sebagaimana sebelumnya syukur juga mengiringi dibelakang agar terhindar dari keputus asaan dan optimis akan nikmat pasti Allah sediakan.
Hari esok penuh dengan impian, harapan dan cita-cita. Tapi yang pastinya apa-apa yang diharapkan tersebut tidak akan datang dengan sendirinya tanpa persiapan. Ada yang mengatakan bahwasanya hidup ini biarlah mengalir bagai air. Apakah anda sepakat? memang benar bahwa apa-apa kelak yang akan kita dapati sudah dalam rencana Allah SWT, namun bukan berarti kita berpangku tangan. Bahkan Allah memperingatkan kita : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”(QS Al Hasyr 18). Selanjutnya, sebagai contoh dalam perang Allah menegaskan : ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya”(QS. Al Anfal 60).






