Komputer = Karakter
Ibnu Syamsi Belajar Nulis, 3 Januari 2011 – ISBN 03.01.11
Berbicara komputer, tentu merupakan pembicaraan yang mengasyikan melihat teknologi satu ini berkembang begitu pesatnya dari tahun ke tahun baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Tapi apapun perkembangan itu, tiga hal yang melekat yang tak dapat dipisahkan dari komputer sebagai mesin yang membantu kerja manusia adalah operasi input, proses dan ouputnya. Kita ketahui bersama contohnya seperti keyboard, mouse, scanner, finger print dan lain sebagainya merupakan perangkat input. Kemudian inputan tersebut di proses pada perangkat utama komputer yaitu CPU (Central Processing Unit). Selanjutnya hasil proses menjadi output melalui perangkat output seperti monitor, printer dan lain-lain.
Setelah membahas komputer secara sekilas diatas, kita akan mencoba mengkorelasikanya dengan karakter. Apa hubunganya komputer dengan karakter? Nah….kalau di komputer ada operasi input, proses dan output, begitu juga karakter yang pastinya merupakan hasil dari proses sebagaimana komputer tersebut yang terjadi pada pribadi seseorang. Sejatinya karakter kita adalah sesuatu yang kita terbentuk dari proses sengaja atau tidak sengaja, didapatkan dari proses belajar/pendidikan ataupun karena kondisi lingkungan yang tentunya panca indra kita memiliki peran didalamnya.
Jika pada komputer terdapat perangkat input, begitu juga pribadi kita yang memiliki mata, telinga dan lain sebagainya. Perangkat proses juga terdapat pada pribadi kita yaitu otak serta hati. Selanjutnya perangkat output yang menunjukan karakter pribadi kita yaitu tangan dengan apa yang kita lakukan, kaki untuk melangkah dan kemana tujuanya, serta mulut yang berbicara. Apabila inputanya segala sesuatu yang baik kemudian proses berjalan lancar tanpa ada halangan pada tiap alurnya maka kelak outpunya juga akan baik begitu juga sebaliknya.
Tentu kita pernag berhadapan dengan virus ketika bekerja dengan komputer dengan berbagai macam varian dengan tingkat bahaya yang berbeda-beda. Jika kita umpamakan pada pribadi kita, virus itu adalah segala sesuatu masukan jelek sehingga apabila kita tidak memiliki proteksi yang baik maka akan terjangkit kemudian akan berpengaruh pada output yang akan terjadi pada pribadi kita. Misalkan virus komputer yang menampilkan banyak shortcut, menghidden folder, memenuhkan hardisk dan memori, bahkan sampai merusak data. Bagaimana dengan output pribadi kita ketika tidak mampu membendung ‘virus’(godaan setan) yang masuk?
Karakter jelek umumnya terbentuk dari proses yang tidak sengaja atau bukan melalui jalur pendidikan yang disengaja. Ada sebuah pembahasan menarik mengenai pembentukan karakter, terutama pada pembentukan karakter jelek. Yaitu pembahasan Ibnul Qayyim tentang metode setan. Ibnu Qayyim menggambarkan, pada mulanya setan memasuki manusia melalui lintasan pikiran yang didukung input panca indra. Lintasan tersebut terjadi berulang-ulang, apabila tak mampu dibendung maka kemudian menjadi memori. Selanjutnya memori tersebut jika tak mampu dibendung juga maka menjadi sebuah ide atau gagasan.
Ketika ide atau gagasan tak dapat juga dibendung maka ia turun lebih dalam pada kepribadian dan menjadi sebuah keyakinan yang apabila tak juga dapat dibendung akan menjadi sebuah kemauan. Kemauan yang juga tak dapat dibendung akan menjadi tekad dan pada lapisan inilah membentuk hati kita. Ada sebuah syair bersenandung : “Hati adalah raja, bersih dari lahirnya. Itulah fitrah kita ikrar pada yang Kuasa. Janganglah tergoda, tipu daya dunia. Dunia panggung sandiwara pasti ada akhirnya….Didalam tubuh yang hina bersemai segumpal darah penentu baik buruknya amal kita di dunia. Bila baik didalamnya baik pula amalanya bila buruk, buruk pula akhlaknya”(Fitrah Hati).
Ketika telah menjadi tekad yang merupakan identitas hati, maka akan lebih sulit menghindar kehadiran pengaruh setan. Sebab ketika telah menjadi tekad akan menjadi sebuah tindakan. Tindakan yang dilakukan berkali-kali karena dorongan hati yang telah sakit akan menjadi kebiasaan. Terakhir apabila kebiasaan itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka jadilah ia sebagai karakter pada pribadi kita. Imam Gahazali mengatakan : “Akhlak atau karakter seseorang adalah sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa melalui proses pemikiran”. Dari perkataan beliau, dapat kita pahami bahwa akhlak atau karakter bukanlah sesuatu yang dibuat-buat.
Akal membentuk pola pikir, Hati memebentuk perasaan dan fisik membentuk perilaku. Pola pikir menjadi sebuah visi, dan perasaan menjadi mental, sedangkan cara berperilaku adalah sebuah karakter. Wallahua’lambishowab






